Rabu, 14 Januari 2009


TANAMAN KOPI ARABIKA
DAN ROBUSTA

DISUSUN OLEH :
IBNU
NIM : 201.08.11.052
PRODI PERTANIAN B

FAKULTAS PERTANIAN, PERIKNAN, DAN BIOLOGI
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG
2008


KATA PENGANTAR

Segala Puji Atas rahmat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada saya sehingga makala pertanian saya ini berhasil saya susun dan berhasil saya kumpulkan via blog. Melalui makala blog saya ini, saya menjabarkan dan mengembangkan tulisan tentang Kopi Robusta. Saya harap para pembaca mau dan berminat untuk membaca makala blog saya ini. Tak lupa saya mengucapkan terimakasih kepada Dosen saya Pak Riwan Kusniadi STP yang memberikan dan membimbing kami dalam penulisan.
Jika dalam penulisan makala ini terdapat beberapa kesalahan saya minta maaf dan saya mengharapkan saran demi perubahan dari para pembaca. Jika ada kata-kata yang menyinggung perasaan oknum tertentu, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Akhir kata saya ucapkan terimakasih.

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Praktek budidaya kopi multistrata (mixed/ shaded coffee atau agroforestri kopi) yang dipercaya dapat memenuhi kepentingan ekonomi dan ekologi pada saat yang sama, baru menjadi wacana sejak dua dasa warsa belakangan ini. Padahal budidaya kopi multi-strata sudah lama dipraktekkan oleh para petani kopi tradisional di berbagai belahan dunia, termasuk di antaranya di Sumberjaya – kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS) Tulang Bawang, propinsi Lampung, Pulau Sumatra. Kajian tentang manfaat ekologi dari budidaya kopi multistrata mengarah pada kesimpulan bahwa budidaya kopi multistrata memiliki fungsi konservasi terhadap keragaman hayati (Faminow dan Rodriguez, 2001; Soto-Pinto et al., 2000; Perfecto dan Armbrect, 2003), dan mampu menekan erosi sampai pada tingkat yang dapat diterima (Arsyad, 1977; Ginting, 1982; Afandi et al. , 1999 dan Hartobudoyo, 1979). Perkembangan pasar kopi internasional menunjukkan bahwa komoditas kopi yang dihasilkan oleh budidaya kopi yang ramah lingkungan tersebut, yang oleh Giovanucci (2003) disebut sebagai salah satu jenis ‘Sustainable Coffee’, berpeluang untuk mendapatkan harga premium

B. Tujuan Penulisan
a. Memberikan informasi kepada para pembaca.
b. Memberikan kesempatan kepada para pembaca yang ingin belajar tentang budidaya tanaman kopi robusta.




BAB II
PEMBAHASAN

A. VARIETAS KOPI ARABIKA YANG PALING UNGGUL
Pemuliaan untuk meningkatkan produktivitas kopi arabika ditekankan untuk mendapatkan varietas toleran penyakit karat daun berperawakan katai. Dengan perawakan katai pe-ningkatan produktivitas dicapai melalui peningkatan populasi tanaman per satuan lahan. Hasil seleksi terhadap beberapa nomor introduksi kopi arabika berperawakan katai dari CIFC, Portugal melahirkan BP 453 A dan BP 454 A yang akhirnya pada tahun 1993 dilepas sebagai varietas Kartika 1 dan Kartika 2. Keduanya selain memiliki sifat daya hasil tinggi (2.000-3.000 kg kopi pasar per hektar), toleran serangan penyakit karat daun serta mempunyai mutu biji baik, sehingga dapat dianjurkan ditanam pada lahan ketinggian menengah.
Selain itu untuk mengatasi masalah lahan marginal, pada tahun 1995 telah dilepas varietas S 795. Selain produktivitasnya cukup baik (1.500-2.000 kg kopi pasar per hektar), varietas ini juga toleran penyakit karat daun, sehingga dapat ditanam mulai 700 m dpl Pada saat yang sama juga dilepas varietas Abesinia 3 dan USDA 762. Meskipun daya hasilnya lebih rendah karena kurang tahan penyakit karat daun, tetapi dua varietas tersebut merupakan pilihan bagi pekebun yang memiliki lahan di atas 1.000 m dpl, tanahnya subur dengan tipe iklim basah serta memiliki tenaga kerja terbatas.
Varietas-varietas kopi arabika anjuran ini telah ditanam di perkebunan besar negara maupun swasta. Perkebunan rakyat yang telah menanam di Propinsi Sumut, Sumbar, Bengkulu, Sumsel, Lampung, Jabar, Jateng, Jatim, Bali, NTB, NTT, Timtim, Sulsel, dan Irian Jaya, baik melalui proyek bantuan pemerintah maupun swadaya murni sehingga areal kopi arabika bertambah seluas ? 10.400 ha.


B. PENANAMAN KOPI BERDASARKAN KEADAAN IKLIM
Untuk mengatasi rendahnya produktivitas serta mutu kopi robusta Indonesia dianjurkan penanaman secara klonal yang harus menggunakan banyak klon (poliklonal). Beberapa klon anjuran kopi robusta yang baru dilepas pada tahun 1997, terdiri dari BP 234, BP288, BP 358, BP 409, SA 237, dengan BP 42 sebagai klon penyerbuk paling baik diatur dengan beberapa komposisi yang sesuai dengan kondisi iklim ter-tentu, sebagai berikut:
- > 400 m dpl; tipe iklim A/B: BP 42, BP 358, BP 234 dan SA 237.
- > 400 m dpl; tipe iklim C/D: BP 42, BP 358, BP 234, dan BP 409
- < dengan =" 1000"> 400 m dpl; tipe iklim A/B: BP 42, BP 358, BP 234 dan SA 237.
- > 400 m dpl; tipe iklim C/D: BP 42, BP 358, BP 234, dan BP 409
- < style="text-align: center;">

C. TEKNIK PERBANYAKAN KOPI
Salah satu usaha untuk meningkatkan produksi kopi adalah dukungan bahan tanam berupa klon-klon unggul baik kopi robusta mau-pun arabika. Di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao telah tersedia bahan tanam unggul kopi robusta antara lain BP 42, BP 308, dan BP 409, sedangkan dari kopi arabika antara lain USDA 762, Kartika 1, Kartika 2, dan S 795. Dalam rangka penyebaran bahan tanam ini secara luas dan cepat maka diperlukan teknologi yang sesuai untuk mem-percepat perkembangbiakan klon-klon tersebut. Kultur jaringan merupakan alternatif yang sesuai diterapkan untuk memproduksi bahan tanam kopi dalam jumlah besar dan dalam waktu relatif singkat.
Embriogenesis somatik langsung telah berhasil diterapkan untuk per-banyakkan klon unggul kopi robusta BP 308 dan kopi arabika USDA 762. Keunggulan teknik embriogenesis langsung adalah bibit yang dihasilkan secara genetis sama dengan induknya. Disamping itu dalam waktu yang relatif singkat dapat diperoleh bahan tanam dalam jumlah besar karena dari satu potongan eksplan dapat dihasilkan ribuan bibit dalam waktu satu tahun

D. TEKNIK KONVERSI KOPI ROBUSTA KE ARABIKA
Penelitian konversi kopi robusta ke arabika dengan teknik penyambung-an di lapangan telah dilaksanakan dengan pertimbangan beberapa masalah antara lain, harga kopi arabika yang lebih mahal dibandingkan dengan harga kopi robusta, khususnya di pasar-an dunia. Komposisi produksi kopi se-cara nasional didominasi oleh kopi robusta, kopi arabika hanya mencapai 6 persen. Banyak kopi robusta ditanam di lahan tinggi, yang sebenarnya lebih cocok untuk penanaman kopi arabika.

Karena tingkat pengetahuan dan sosial kultural petani rakyat, umumnya setiap upaya konversi tanaman yang berakibat terputusnya pendapatan dari tanaman semula dan berjangka panjang sangat memberatkan per-ekonomian petani, selain itu biaya yang diperlukan cukup besar untuk tingkat kehidupan petani rakyat. Untuk mengatasi masalah tersebut telah di-kembangkan teknik konversi kopi robusta ke arabika dengan cara pe-nyambungan di lapangan dengan metode “swing”. Dengan metode ter-sebut petani masih dapat memperoleh hasil kopi sebesar ? 50 persen dari sisa tajuk yang tidak di “swing”.

Tanaman kopi arabika hasil konversi dengan penyambungan dapat berproduksi lebih awal bila dibanding-kan dengan melalui biji. Produksi kopi arabika diharapkan dapat mencapai 30 persen dari produksi kopi nasional. Dengan asumsi produksi kopi nasional saat ini 450.000 ton per tahun, dan diharapkan produksi kopi arabika ter-jadi peningkatan 30 persen serta selisih harga nominal antara kopi arabika dan kopi robusta US$ 1 (minimal), maka dampak kepada peningkatan devisa akan mencapai US$ 67.500 juta atau sekitar Rp 141.750 milyar. Pendapatan petani juga akan lebih tinggi dengan menanam kopi arabika dibanding kopi robusta.

Teknik konversi ini telah di-terapkan di perkebunan besar negara maupun swasta. Perkebunan rakyat yang telah menerapkan antara lain di Propinsi Aceh, Lampung, NTT, dan Bali.

D. KOPI ORGANIK
Pasar kopi baru yaitu specialty coffee merupakan peluang yang harus diraih, dalam kopi organik termasuk di dalamnya. Kopi organik merupakan kopi yang diproduksi dengan menganut pada paham pertanian yang ber-kelanjutan. Dalam budidaya organik aspek-aspek pelestarian sumberdaya alam, keamanan lingkungan dari se-nyawa senyawa pencemar, keamanan hasil panen bagi kesehatan manusia serta nilai gizinya sangat diperhati-kan. Di samping itu dalam budidaya kopi organik aspek sosial ekonomi juga menjadi perhatian utama. Jadi, tidak seperti anggapan masyarakat selama ini bahwa kopi organik adalah budidaya kopi tanpa pestisida, pupuk buatan dan tanpa pemeliharaan sama sekali. Justru, pada budidaya kopi organik jauh lebih banyak aspek yang harus diperhatikan.

Kopi organik hanya dapat diproduksi pada kondisi sumberdaya lahan yang tingkat kesuburan tanahnya tinggi, curah hujannya cukup serta daya dukung lingkungannya tinggi.

Pengelolaan tanah mempunyai arti yang sangat penting yang meliputi penyediaan bahan organik yang cukup di dalam tanah dan memanfaatkan mikrobia seperti jamur mikoriza ber VA. Mengingat daerah pertanaman kopi arabika umumnya di daerah dataran tinggi dengan topografi berbukit hingga bergunung, maka pengendalian erosi dengan terasering mutlak dilakukan.

Pengendalian organisme pengganggu tanaman kopi dilakukan dengan mempergunakan sistem pengedalian terpadu dengan mengutamakan pe-ngendalian secara hayati. Jamur Beauveria bassiana dapat dipergunakan untuk mengendalikan hama bubuk buah kopi, Trichoderma sp. untuk pengendalian jamur akar kopi. Selain itu ekstrak daun mimba (Azadirachta indica) dapat dimanfaatkan sebagai pestisida botani.

Penanganan pasca panen kopi organik memerlukan kecermatan agar sesuai dengan ketentuan standar mutu biji kopi. Dalam menghasilkan kopi organik yang lebih penting untuk di-perhatikan adalah adanya saling me-nguntungkan antara produsen/petani, pengolah (prosesor) dan pedagang (eksportir).

Propinsi yang telah meng-ekspor kopi organik adalah D.I. Aceh dan Timor Timur. Premium yang diperoleh oleh kopi organik berkisar antara 20-70,5 persen.

E. VARIETAS UNGGUL KOPI ARABIKA ANDUNG SARI 1 (BP 426 A)
Varietas Andung Sari 1 yang berasal dari varietas harapan dengan nomor seleksi BP 426 A, BP 426 A, merupakan salah satu hasil seleksi pohon induk dari populasi varietas Catimor yang diintroduksikan dari Kolombia. Keragaman individu pada populasi tersebut sangat nyata, baik habitus, ketahanan terhadap penyakit karat daun, pembuahan dll. Pada saat pembuahan pertama dan kedua (1987-1988) dilakukan seleksi individual ter-hadap sifat daya hasil dan ketahanan terhadap karat daun; terpilih 3 nomor seleksi, yaitu BP 425 A, BP 426 A dan BP 427 A. menilik perbedaan sifat morfologi dan sifat agronomi lainnya yang berbeda dengan populasi Catimor keturunan HW 26 (Kartika 1 dan Kartika 2), diduga BP 426 A merupa-kan keturunan Catimor H-440 dengan induk persilangan Catura vermelho (CIFC 19/1) x Hibrido de Timor CIFC 1343/269. Catimor keturunan H-440 ini banyak ditanam sebagai varietas praktek di Kolombia. Pengujian aras bibit dilakukan terhadap sifat ketahan-an pada kondisi lengas tanah dan hara minimal, serta pengujian lapangan terhadap sifat daya hasil dan mutu biji yang dilakukan di beberapa kondisi lingkungan. Pengujian ketahanan ter-hadap penyakit karat daun dilakukan pada aras bibit maupun di lapangan baik dengan metode inokulasi cakram daun di laboratorium maupun metode scoring di lapangan.

Berdasarkan penelitian ini BP 426 A dapat ditanam mulai ketinggian tempat 700 m ke atas, dengan be-berapa tipe iklim, yaitu tipe A, B, C, dan D ( menurut klasifikasi schmith & Ferguson). Meskipun demikian produk-tivitas paling baik adalah penanaman di lahan dengan = 1000 m dpl, klas lahan S1 dan S2 dengan tipe iklim B atau C. Pengujian cita rasa (cup test) dilakukan oleh panelis dari pusat penelitian Kopi dan Kakao dan dari luar negeri dengan cara mengirimkan contoh ke laboratorium Uji Mutu milik Nestle S.A, Switzerland.


BAB III
KESIMPULAN
Varietas-varietas kopi arabika anjuran ini telah ditanam di perkebunan besar negara maupun swasta. Beberapa klon anjuran kopi robusta yang baru dilepas pada tahun 1997, terdiri dari BP 234, BP288, BP 358, BP 409, SA 237, dengan BP 42 sebagai klon penyerbuk paling baik diatur dengan beberapa komposisi yang sesuai dengan kondisi iklim ter-tentu, sebagai berikut:
- > 400 m dpl; tipe iklim A/B: BP 42, BP 358, BP 234 dan SA 237.
- > 400 m dpl; tipe iklim C/D: BP 42, BP 358, BP 234, dan BP 409

- <>


DAFTAR PUSTAKA

Siswoputranto, P.S. 1993. Kopi Internasional dan Indonesia. Kanisius, Yogyakarta

Sunanto, H. 1992. Cokelat. Budidaya, Pengolahan Hasil dan Aspek Ekonominya. Kanisius. Yogyakarta.

AAK. 1990. Budidaya Tanaman Kopi. Kanisius. Yogyakarta.
Anonim. 2000. Prinsip dan Praktek Pemanenan Hutan di Indonesia. Departemen Kehutanan dan Perkebunan RI dan Natural Resources Management Program. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar